Senin, 18 April 2016



MAKALAH
Mari...




SEJARAH INDONESIA
 Kerajaan-kerajaan islam di Indonesia
 







Oleh:
Fitria ma’rufah (12)
Kelas
x ipa 4









DAFTAR ISI:

1.      Daftar isi
2.      BAB I
PENDAHULUAN
3.      BAB II
PEMBAHASAN
4.      BAB III
PENUTUP

















Bab I
PENDAHULUAN

 A.Latar Belakang                     
     Islam lahir di jazirah arab.Islam berkembang sampai ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari arab, persi, Gujarat,sekitar abad ke-7 hingga abad ke-8. Islam diterima dengan baik dan berkembang dengan pesat di Indonesia. Faktor pendorong islam cepat berkembang di Indonesia:
1.      syarat masuk islam muda
2.      islam bersifat terbuka
3.      tidak mengenal sistem kasta
4.      di sebarkan secara damai
5.      upacara sederhana dan biaya murah
6.      runtuhnya kerajaan Majapahit
  Di Pulau Jawa, ada Sembilan tokoh penyebar agama islam yang di kenal sebagai wali sanga(wali Sembilan). Peranan wali sanga antara lain:
1. sebagai penyebar agama islam
2. pendukung berdirinya kerajaan islam
3. penasehat raja
4. pendukung berkembangnya kebudayaan daerah yang di sesuaikan dengan islam

B. Rumusan Masalah
        Rumusan masalah dalam makalah ini adalah apa saja kerajaan kerajaan islam yang berkembang di Indonesia dan bagaimana pemerintahanya.

C. Tujuan
     Tujuan dari makalah ini adalah :
     -mengetahui apa saja kerajaan kerajaan islam yang berkembang di Indonesia dan bagaimana pemerintahanya
     -Melaksanankan tugas yang di berikan guru sejarah Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN

A.Kerajaan kerajaan islam di Indonesia
    
     Beberapa kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia adalah:

1.      Kerjaan Perlak

Perlak adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini berdiri tahun 840-1292 M karena bergabung dengan kerajaan Samudra Pasai. Terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja pertama Stan Alaidin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249H/840-964M). Pada tanggal 1 Muharram 225 H Sayyid Abdul Aziz dinobetkan sebagai Sultan setelah pengangkatan ini Perlak menjadi Bandar Khalifah. Kerajaan Perlak didukung oleh adanya sumber sejarah (Ahmad Hasyimi 1989).

2.      Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan ini didirikan leh Sultan Malik AsSaleh dan sekaligus sebaga raja pertama pada abad ke 13. Kerajaan Samudra Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lok Sumawe (Pantai Timur Aceh).

Raja yang pernah memerintah adalah:
a.Sultan Malik As Saleh
b.Sultan Muhammad atau Sultan Malik At Tohir I (1297-1326M)
c.SultN Malik At Tohir II (1326-1348M)

3.      Kerajaan Malaka

Raja pertama kerajaan Malaka pertama adalah adalah Iskandar Syah. Dia adalah pangeran dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri setelah Majapahit kalah pada perah Paregreg. Nama aslinya adalah Parameswara. Ia melarikan diri ke Semenanjung Malaka dan membangun Kerajaan Malaka. Berkembangnya kegiatan pelayaran Malaka banyak didukung pedagang Arab dan India pada masa kera menjadi kerajaan islam terbesar yang disegani kerajaan di sekitarnya selama memerintah beliau berhasil memajukan bidang perdagangan dan pelayaran.Dan ia juga berhasil menguasai jalur perdagangan di kawasan selat malaka dengan taktik pernikahan politik. Sultan Mudzafat Syah (1424-1458 M). Ia menggantikan Muhammad Iskandar Syah setelah menyingkirkannya dari tahta Kerajaan Malaka melalui sebuah kemelut politik. Sultan Mudzafat Syah juga berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Pahang, Indragiri, dan Kampar. Setelah Sultan Mudzafat Syah wafat, ia digantikan oleh putranya Sultan Mansyur Syah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka berhasil menguasai kerajaan Siam sebagai bagian taktik memperluas wilayah kekuasaan dan mengokohkan kebesarannya di antara kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.

4.      Kerjaan Aceh

Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528). Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku. Aceh mencapai jaman keemasan di bawah pemerintah Sultan Iskandar Muda (1607-1936 M ). ia adalah orang yang cakap dan pemeluk Islam yang taat. Wilayah di Semenanjung Malaya, seperti Johor, Kedah, pahang berhasil dikuasai. Demikian juga daerah Perlak, Pulau Bintan dan Nias. Iskandar muda bersikap anti penjajah. Ia bercita-cita dapat mengusir Portugis dari Malaka. Oleh sebab itu Iskandar Muda beberapa kali menyerang Portugis di Malaka. Contoh, tahun 1629, ia melakukan serangan besar-besaran ke Malaka. Namun karena persenjataan yang tidak seimbang belum berhasil. Portugis pun juga menyerang dan berusaha menguasai Aceh, namun selalu dapat dipukul mundur oleh tentara Aceh. Pada masa kekuasaan Iskandar Muda disusun suatu Undang-undang tentang tata Pemerintah. Undang- undang itu disebut Adat Mahkota Alam. Tahun 1636 Sultan Iskandar Muda Wafat kemudian digantikan Sultan Iskandar thani. Sultan Iskandar Thani (1936-1641 M). Belanda sudah berhasil menguasai Malaka. Lama kelamaan Belanda pun berhasil memasukkan pengaruhnya ke Aceh. Peninggalan sejarah dari kerajaan Aceh antara lain berupa koin emas, stempel kerajaan, makam Sultan Iskandar Muda, Rencong, juga beberapa karya sastra. Dalam bidang kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al- Iman, Nuruddin Al-Raniri dalam bukunya Sirat al- Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil.

5.      Kerajaan Demak

Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan yang didirikan oleh Raden Patah ini pada awalnya adalah sebuah wilayah dengan nama Glagah atau Bintoro yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Majapahit mengalami kemunduran pada akhir abad ke-15. Kemunduran ini memberi peluang bagi Demak untuk berkembang menjadi kota besar dan pusat perdagangan. . Dengan bantuan para ulama Walisongo, Demak berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah timur Nusantara. Sebagai kerajaan, Demak diperintah silih berganti oleh raja-raja. Demak didirikan oleh Raden Patah (1500-1518) yang bergelar Sultan Alam Akhbar al Fatah. Raden Patah sebenarnya adalah Pangeran Jimbun, putra raja Majapahit. Pada masa pemerintahannya, Demak berkembang pesat. Daerah kekuasaannya meliputi daerah Demak sendiri, Semarang, Tegal, Jepara dan sekitarnya, dan cukup berpengaruh di Palembang dan Jambi di Sumatera, serta beberapa wilayah di Kalimantan. Karena memiliki bandar-bandar penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik. Raden Patah memperkuat armada lautnya sehingga Demak berkembang menjadi negara maritim yang kuat. Dengan kekuatannya itu, Demak mencoba menyerang Portugis yang pada saat itu menguasai Malaka. Demak membantu Malaka karena kepentingan Demak turut terganggu dengan hadirnya Portugis di Malaka. Namun, serangan itu gagal. Dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar- dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad Agung Demak memperlihatkan adanya wujud akulturasi kebudayaan Indonesia Hindu dengan kebudayaan Islam.

6.      Kerjajaan Mataram

Kerajaan Mataram Sutawijaya yang mendapat limpahan Kerajaan Pajang dari Sutan Benowo kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram. Sutawijaya kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pemerintahan Panembahan Senopati (1586-1601) tidak berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh pemberontakan-pemberontakan. Kerajaan yang berpusat di Kotagede (sebelah tenggara kota Yogyakarta sekarang) ini selalu terjadi perang untuk menundukkan para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, seperti Bupati Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan bahkan Demak. Namun, semua daerah itu dapat ditundukkan. Daerah yang terakhir dikuasainya ialah Surabaya dengan bantuan Sunan Giri.

7.     Kerajaan banten

Kerajaan Banten Kerajaan yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean dan Pangeran Sabakingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun 1522, Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin diangkat menjadi Raja Banten.

8.     Kerajaan Banten

 Kerajaan yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh salah seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon. Ketika Demak mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan bantuan sepenuhnya. Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh Syarif Hidayatullah.
Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah meminta Fatahillah untuk menjadi Bupati di Jayakarta. Syarif Hidayatullah kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Pasarean.

9.      Kerajaan Goa Tallo

Kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan sebenarnya terdiri atas dua kerjaan: Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi perdana menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar. Karena posisinya yang strategis di antara wilayah barat dan timur Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah. Kerajaan Makassar memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah Bugis. Mereka inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Makassar. Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin (1653-1669).

10.  Kerajaan Ternate Tidore

Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai raja. Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah terutama cengkih.








BAB III
PENUTUP

 A. Kesimpulan

 Agama Islam masuk ke Indonesia kira-kira sejak abad ke-7. Kerajaan-Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia antara lain: Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Goa- Tallo, Kerajaan Ternate dan Tidore. Islam berkembang pesat di Indonesia dibuktikan dengan Agama Islam merupakan agama yang mendominasi wilayah Indonesia. Selain itu sistem pemerintahan kerajaan- kerajaan Islam di Indonesia termasuk dalam sistem pemerintahan monarki, karena para penguasa masih ada ikatan keturunan.

 B. Saran

Makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan maupun referensi pengetahuan mengenai Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Namun, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan, karena melihat masih banyak hal-hal yang belum bisa dikaji lebih mendalam dalam makalah ini.